Simak Perbedaan Baterai LFP dan NCM pada Kendaraan Listrik

Indochine-Autrement, Jakarta – Belakangan ini ramai diperbincangkan mengenai dua jenis baterai yang digunakan pada kendaraan listrik, yaitu baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) dan baterai Nickel Cobalt Manganese (NCM). Lalu apa perbedaan kedua jenis baterai ini?

Perusahaan Elcan Industries Inc. Menurut situsnya, baterai LFP merupakan baterai lithium ion yang menggunakan besi fosfat sebagai bahan katodanya. Baterai jenis ini memiliki kepadatan energi yang tinggi, masa pakai yang lama, dan kinerja yang baik pada suhu tinggi.

Baterai LFP ini dapat digunakan pada kendaraan listrik kecil dan ringan, sistem penyimpanan energi listrik, dan perkakas listrik portabel. Baterai LFP ini umumnya dianggap lebih aman dibandingkan baterai lithium-ion tradisional. Baca juga: Mobil Listrik BYD Sudah Termasuk Baterai LFP

Sedangkan baterai NCM terdiri dari nikel, kobalt, dan mangan, tiga di antaranya digabungkan dalam sistem lithium-ion. Baterai ini dirancang untuk konsumsi daya dan energi. Baterai jenis ini menggunakan 33% nikel sebagai bahan bakunya.

Sebaliknya, baterai LFP tidak menggunakan bahan baku nikel, melainkan besi fosfat. Baterai LFP ini tidak rentan terhadap panas berlebih dan kebakaran. Cuplikan video pengujian baterai LFP dan NCM di kantor pusat BYD di Tiongkok:

Namun kepadatan energi baterai NCM lebih tinggi dibandingkan baterai LFP. Namun baterai NCM lebih mahal dibandingkan baterai LFP karena bahan bakunya lebih mahal. Secara keseluruhan, harga kedua baterai tersebut bervariasi sebesar 20% untuk kapasitas yang sama.

Pada saat yang sama, ketahanan suhu baterai nikel kobalt mangan relatif seimbang dan dapat bekerja normal di lingkungan normal, suhu rendah dan suhu tinggi. Meskipun baterai LFP memiliki ketahanan yang relatif tinggi terhadap suhu tinggi, namun tidak sensitif terhadap suhu rendah. Pada suhu 0°C, kinerja baterai LFP menurun 10-20%.

Dari segi keamanan, baterai litium ferrofosfat umumnya lebih disukai karena sifat kimia dan struktur selnya lebih stabil, dan meskipun dijatuhkan dari ketinggian, baterai tersebut tidak terbakar atau meledak, melainkan mengeluarkan asap. Pada saat yang sama, baterai nikel-kobalt-mangan memiliki risiko kebakaran dan ledakan yang lebih tinggi, terutama pada suhu tinggi yang tidak normal. Pada tahun 2023, BYD menyatakan akan beralih menggunakan baterai LFP yang disebut baterai Blade, karena lebih murah, lebih aman, dan memiliki performa lebih baik dibandingkan baterai berbahan nikel.

Kini sudah banyak produsen mobil yang mulai menggunakan baterai LFP seperti Tesla, BYD, Chery dan Wuling. Sementara beberapa kendaraan Tesla masih menggunakan baterai NCM, disusul Hyundai, Volkswagen, Volvo, bahkan BMW. Pilihan Editor: Komentar pengulas tentang baterai LFP tidak dapat didaur ulang.

Ingin mendiskusikan artikel di atas dengan editor? keanggotaan. Yuk gabung Indochine-Autrement/komunitas, pilih grup GoOto

Chery Sales Indonesia mengumumkan peningkatan signifikan pesanan mobil listrik Omoda E5. Simak selengkapnya di artikel ini: Baca selengkapnya

Luhut juga mengatakan Elon Musk tertarik berinvestasi di Indonesia. Kali ini di IKN. Baca selengkapnya

BYD Motors Indonesia resmi membuka delapan diler pertamanya di Indonesia pada hari ini, 8 Februari 2024. Baca Selengkapnya

Neta menjelaskan konsumsi energi kumulatif Neta V, yang dianggap sebagai pilihan hemat biaya dan hemat dibandingkan mesin konvensional. Baca selengkapnya

Morris Garages (MG) berjanji akan merevolusi industri kendaraan listrik (EV) Indonesia dengan memperkenalkan dua kendaraan listrik baru. Baca selengkapnya

BYD Motor Indonesia akan mengumumkan harga mobil listrik pertamanya di Indonesia International Motor Show (IIMS 2024). Baca selengkapnya

Berikut hal utama yang perlu diperhatikan saat memilih baterai untuk mobil listrik: Baca selengkapnya

Perusahaan ban Hankook Tire & Technology (Hankook Tire) mengumumkan hasil penjualan tahunan sebesar KRW 8.939.600.000. Baca selengkapnya di sini: Baca selengkapnya

VinFast Auto resmi mengumumkan keikutsertaannya di Indonesia International Motor Show (IIMS 2024) dan menargetkan 50.000 kendaraan listrik. Baca selengkapnya

Sulawesi dan Maluku merupakan salah satu lokasi penambangan nikel yang memiliki potensi terbesar mengganggu habitat asli burung. Baca selengkapnya